Halaqoh Ilmu
Barang siapa yang belajar satu bab dari ilmu, untuk diajarkan kepada manusia maka ia diberi pahala 70 shiddiqin
5 Mar 2017
14 Jan 2015
Pernikahan Rosululloh dengan Sayyidah Khodijah BAG.2
Ketika Sayyidah Khodijah mendengar informasi tentang keagungan kejujuran
Rosululloh dan kemuliaan akhlaqnya beliau mengutus orang kepercayaannya seorang
laki-laki budak beliau yang bernama Maisaroh untuk menemui Rosululloh dan
meminta untuk menjualkan barang dagangannya ke Syam dan akan memberikan
dagangan yang lebih baik dari yang diberikan kepada orang lain sehingga
gajinyapun akan lebih banyak juga. Rosululloh menerimanya dengan senang hati bukan
karena hal diatas tapi karena beliau ingin meringankan beban pamannya.
Rosululloh bekerja bukan tujuan mencari dunia karena dunia yang tunduk kepada
beliau.
Akhirnya Rosululloh berangkat ke Syam dan berhasil membawa keuntungan
berlipat ganda. Selama perjalanan tersebut Maisaroh sangat mengagumi kemuliaan
akhlaq beliau, dalam perjalanan tersebut Rosululloh berhenti dibawah naungan
pohon dekat rumah seorang pendeta yang bernama Nastur. Nastur mendekati
Maisaroh yang beristirahat tidak jauh dari Rosululloh dan berkata siapa
laki-laki yang berhenti berteduh di bawah pohon itu?, Maisaroh menjawab ia
seorang dari Quroisy dari penduduk tanah haram. Pendeta tersebut berkata tidak
akan berhenti dibawah pohon tersebut kecuali ia seorang Nabi karena pohon
tersebut pohon yang diduduki Nabi Isa dan dalam Taurot telah disebutkan bahwa
yang duduk dibawah pohon tersebut hanyalah seorang Nabi, maka Nastur mendekati
Rosululloh dan minta ijin melihat tanda nubuwwah, setelah melihatnya maka
bertambah yakinlah Nastur bahwa Rosululloh adalah seorang Nabi dan Nasturpun
langsung beriman. Maisaroh juga melihat dalam perjalanan tersebut awan yang
selalu menaungi Rosululloh karena saat itu cuacanya sedang panas-panasnya.
Setelah sampai di Mekkah, Rosululloh menyerahkan hasil dagangannya dan
Sayyidah Khodijah sangat gembira sekali akan keuntungan yang berlipat ganda,
kemudian Rosululloh pulang kerumahnya, Maisaroh menceritakan segala peristiwa
yang dialaminya saat perjalanan bersama Rosululloh. Sayyidah Khodijah sangat
memperhatikan cerita Maisaroh dengan seksama dan terkejut dengan keberkahan
yang diperolehnya dari perniagaan Rosululloh. Sayyidah Khodijah adalah wanita
yang berpendirian kuat, cerdas, terhormat dan mempunyai akhlak mulia yang
memang sudah dipersiapkan Allah untuk mendampingi Rosululloh kelak, maka
setelah mendengar cerita Maisaroh tersebut beliau menyatakan hasratnya untuk
menikah dengan Rosululloh, beliaupun mengutus teman dekatnya yang bernama
Nafisah binti Muniyah untuk menyampaikannya kepada Rosululloh. Sayyidah
Khodijah berpesan kepada sahabatnya tersebut untuk mengatakan pesannya yang
berbunyi : Hai saudara misanku, sungguh aku tertarik padamu karena
kekerabatanmu, kemuliaanmu di kaummu, jejujuranmu, kebaikan akhlaqmu dan
kebenaran tutur katamu. Sayyidah Khodijah menawarkan dirinya kepada Rosululloh.
Ketika Sayyidah Khodijah mengungkapkan tawarannya, Rosululloh
menceritakan kepada paman-pamannya dan semua keluarga Rosulullohpun
menyetujuinya, demikian pula Rosululloh menyetujuinya karena kemuliaan akhlaq
Sayyidah Khodijah dan kehormatan dirinya di kaum Quroisy yakni wanita yang
paling mulia nasabnya dan terhormat. Lalu Rosululloh bersama pamannya Hamzah
bin Abdul Mutholib pergu meminang Sayyidah Khodijah, tidak lama kemudian
Rosululloh menikah dengan Sayyidah Khodijah dimana saat itu usia Rosululloh 25
tahun dan istrinya berusia 40 tahun. Pernikahan tersebut terjadi dua bulan
sesudah Rosululloh pergi membawa dagangan Sayyidah Khodijah ke Syam. Rosululloh
memberi mahar sebanyak 20 lembu. Sayyidah Khodijah adalah wanita pertama yang
dinikahi Rosululloh dan Rosululloh tidak menikah dengan wanita lain semasa
hidup Sayyidah Khodijah. Rosululloh menikah lagi dengan wanita lain setelah
Sayyidah Khodijah meninggal dunia.
Sebelum menikah dengan Rosululloh, Sayyidah Khodijah menceritakan tentang
Rosululloh kepada sepupunya yang ahli kitab injil seperti yang beliau dengar
dari cerita Maisaroh. Sepupunya Waroqoh bin Naufal berkata : Jika ini benar
wahai Khodijah sesungguhnya Muhammad adalah nabi untuk umat ini seperti yang
dikatakan dalam Injil. Aku tau persis umat ini akan mempunyai nabi yang
ditunggu kedatangannya dan sekarang telah tiba masa kemunculan nabi tersebut,
namun hingga kapan masa penantian ini ?, Oleh karena itulah Sayyidah Khodijah
yang cerdas berhasrat untuk menikah dengan Rosululloh, jadi bukan bertujuan
nafsu tapi bertujuan ingin mendampingi calon pembawa risalah Allah dimuka bumi.
13 Jan 2015
Pernikahan Rosululloh dengan Sayyidah Khodijah BAG.1
Sebelum membahas pernikahan beliau kita bahas dulu sekelumit tentang
Sayyidah Khodijah. Nasabnya adalah : Khodijah binti khuwailid bin asad bin
abdul 'uzza bin qushoy. Sehingga beliau bertemu nasab dengan Rosululloh dari
jalur ayahnya pada Qushoy bin Kilab. Ibunya adalah Fathimah binti Zaidah bin Al
Ashom dari bani Amir bin Luay. Jadi ibu beliau bertemu nasab dengan Rosululloh
dari jalur ibunya pada Luay bin Gholib.
Dijaman jahiliyah Khadijah dijuluki 'Afifah Thohiroh (wanita suci) dan
penghulu wanita Quroisy. Hal itu karena beliau terkenal sangat menjaga
kesuciannya baik dari segi jasmani maupun rohani dimana saat itu wanita sangat
bebas dalam bergaul apalagi jika wanita dari bangsawan lebih bebas lagi pergaulannya.
Tapi tidak untuk beliau walaupun dari kalangan bangsawan dan punya nasab yang
mulia beliau sangat menjaga akhlaq. Beliau tidak pernah berhubungan dengan
bukan mahromnya. Selain itu beliau adalah seorang ahli kitab karena tiap hari
beliau selalu pergi belajar Taurot ke saudara sepupunya yang bernama Waroqoh
bin naufal bin asad. Beliau mempunyai sifat yang sangat cerdas dan berpendirian
kuat. Beliau tidak pernah menyembah berhala. Beliau wanita Quroisy termulia
nasabnya, terhormat, terkaya dan sangat cantik. Sehingga tidak heran jika semua
orang ingin menikah dengan beliau.
Beliau telah menikah dua kali yang semuanya telah wafat. Suami pertamanya
bernama Atiq bin Abid mempunyai anak bernama Hind. Suaminya ini seorang
pedagang saat wafat meninggalnya warisan yang banyak. Suami keduanya adalah
Nabbasy bin Zuroroh mempunyai anak Abu Haalah dan Hindun, suaminya ini juga
seorang pedagang saat wafat meninggalkan warisan yang sangat banyak juga bahkan
melebihi peninggalan harta suami pertama. Oleh karena itu setelah suaminya
wafat beliau yang melanjutkan usaha perdagangan suaminya dan beliau terkenal
seorang saudagar yang sangat kaya dijaman itu karena beliau orang yang sangat
cerdas maka tidak heran bila perdagangannya sangat sukses bahkan sampai ke
negeri Syam.
Pernah suatu hari saat beliau sedang belajar kitab pada Waroqoh sepupunya
tersebut berkata bahwa Nabi akhir zaman sebentar lagi akan muncul. Kata kata
tersebut sering dikatakan Waroqoh. Suatu saat beliau berkumpul dengan
teman-temannya sesama wnita bangsawan Quroisy. Salah satu dari teman beliau
adalah seorang wanita yang ahlu kitab juga berkata bahwa akan datang seorang
Nabi akhir zaman dan siapa yang mau menjadi istrinya? Temannya tersebut berkata
sambil mabuk disaat itu khomer belum haram dan Sayyidah Khodijah tidak pernah
minum khomr. Saat temannya mengucapkan itu beliau dalam hati berdoa agar beliau
dapat jadi istri Nabi tersebut. Sejak saat itu walaupun banyak orang yang
melamar beliau, beliau selalu menolaknya karena beliau mempunyai keyakinan yang
kuat ingin menjadi istri Nabi akhir zaman yang akan muncul.
12 Jan 2015
Perang Al Fijjar & Perjanjian Fudhul
Perang Al Fijjar
Ketika usia Rosululloh 14 atau 15 tahun terjadi perang fijjar. Disebut
perang fijjar karena terjadi dibulan harom yakni bulan Rajab, perang ini
terjadi antara qobilah Quroisy dan Hawazin. Hawazin adalah suku terbesar kedua
setelah Quroisy. Perang Fijjar terjadi 4 kali dan Rosululloh mengikuti perang
yang keempat. Dalam perang tersebut Rosululloh bertugas melindungi
paman-pamannya dari panah musuh.
Penyebab perang tersebut adalah seorang Quroisy yang bernama Barrodh
membunuh Uwais dari Hawazin di Ukadz (nama pasar di Mekkah dimana saat itu
pasar Ukadz adalah pusat berkumpulnya manusia dari segala daerah untuk
berdagang). Kejadian tersebut terjadi di bulan haram sehingga memicu terjadinya
perang.
Nb: sebelum datang Islam bulan
haram sangat dimuliakan. Sehingga saat Islam datang bulan haram tambah
dimuliakan lagi.
Hilful Fudhul
Hilful Fudhul (perjanjian Al Fudhul) adalah perjanjian yang diadakan
qobilah Quroisy di rumah Abdulloh bin Jud'an karena ia orang yang paling
tertua. Isi perjanjian tersebut diantaranya:
1.
Jika ada orang teraniaya di Mekkah baik penduduk asli
atau orang yang datang ke Mekkah mereka akan melindunginya.
2.
Orang yang menganiaya harus mengembalikan apa yang
diambilnya dari orang yang teraniaya baik harta atau kehormatan harga diri.
Rosululloh bersabda:
لقد شهدت في دار عبدالله بن جدعان حلفامااحب ان لي له
حمرالنعم،ولوادعي به في الاسلام لاجبت
(Sungguh aku ikut
menghadiri perjanjian dirumah Abdulloh bin Jud'an. Perjanjian tersebut lebih
aku sukai daripada unta merah. Jika dalam Islam aku diundang untuk mengadakan
perjanjian seperti itu pasti aku memenuhinya).
Nb : Tambahan sedikit tentang
pasar Ukadz. Selain untuk berdagang pasar ini digunakan untuk festival seni
yang diadakan mulai bulan dzulqodah sampai dzulhijjah. Festival paling terkenal
saat itu adalah lomba para penyair. Ustad Muhammad Haddad mengatakan bahwa ilmu
syiir dan ilmu nasab di era jahiliyyah sangat berarti dan berharga. Jika mereka
menguasainya maka dianggap 'allamah oleh sebab itu acara tahunan tersebut sangat
di nanti. Karya syiir terbaik akan ditulis dengan tinta emas diatas kain mewah
lalu digantungkan di dinding Ka'bah yang kemudian disebut dengan Mu'allaqot.
Mu'allaqot di jaman tersebut yang paling terkenal adalah Mu'allaqot Umru al
Qois, Zuhair, Nabighoh, Antaroh, Labid bin Robi'ah (jadi pembela Rosululloh).
Sayyidah Aisyah sangat fasih pada muallaqot Umru al Qois. Biasanya syiir
mu'allaqot itu berisi syiir yang panjang dan indah dengan persajakan yang rumit
(makna yang tinggi). Ustad Muhammad mengatakan dulu para habaib mengadakan
perkumpulan para penyair ulung tentang mahabbah pada Allah dan RosulNya di
masjid Serang Surabaya.
Penyair Rosululloh yakni Hasan bin Tsabit sangat ditakuti kafir Quroisy
karena tajamnya syiir yang ditujukan pada mereka. Ditambah lagi Rosululloh
menyuruhnya belajar ilmu nasab pada Sahabat Abubakar Shiddiq maka dia jadi
semakin ditakuti. Penyair Rosululloh yang lain yakni Kaab bin Zuhair karena
indahnya syiirnya sampai Rosululloh memberikan burdahnya sama seperti Imam
Bushiri.
11 Jan 2015
Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.3
Memasuki masa remaja Rosululloh mulai berusaha mencari rezeki untuk
membantu pamannya dengan mengembalakan kambing dan mendapat upah beberapa
qiroth (Ukuran berat perak ada pendapat lain ukuran berat emas). Selama masa
mudanya Allah telah memeliharanya dan melindunginya dari
penyimpangan-penyimpangan jahiliyah. Pernah pada suatu saat beliau akan pergi
untuk berkumpul dengan teman-temannya yang sedang pesta dan mendengarkan
nyanyian. Sebelum sampai ditempat temannya tersebut Allah menutup telinga
beliau sehingga tidak sampai mendengar nyanyian dan mengirim rasa kantuk
sehingga beliau tertidur. Pada malam yang lain juga terjadi hal seperti itu
sehingga sejak saat itu beliau tidak pernah lagi menginginkan keburukan.
Sehingga saat itu beliau menjadi orang yang paling kesatria di kaumnya,
paling baik akhlaqnya, paling mulia nasabnya, paling baik pergaulannya, paling
santun, paling baik tutur katanya, paling jujur, paling jauh dari keburukan dan
paling jauh dari akhlaq yang mengotori sifat orang laki-laki sehingga kaumnya
menggelarinya Al Amin (orang yang dapat dipercaya karena terkumpul segala sifat
kebaikan pada diri beliau). Semua itu karena 'inayah Ilahi secara khusus pada
beliau.
Nb : Sehubungan dengan usaha
Rosululloh mengembalakan kambing untuk tujuan mencari rezeki terdapat 3 ibroh
(pelajaran) yang dapat diambil menurut Syekh Muhammad Sa'id Romadhon Al Buthi
(guru Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki) yakni :
1. Begitu merasakan kemampuan untuk bekerja beliau segera
melakukannya dengan sekuat tenaga untuk meringankan beban pamannya yang selama
ini mengasuhnya dengan kasih sayang yang sangat. Walaupun hasilnya tidak begitu
banyak dan tidak begitu penting bagi pamannya, tetapi ini merupakan akhlaq yang
mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan dan kebaikan prilaku.
2. Agar kita mengetahui bahwa harta yang terbaik adalah
harta yang diperoleh dari usaha sendiri tidak meminta minta
3. Para ahli dakwah akan dihargai jika mencari usaha
sendiri dan tidak menjadikan dakwah sebagai sumber rezekinya yakni mengharap
dikasi orang upah dari dakwahnya dengan mencari usaha sendiri maka akan bebas
dalam berdakwah sehingga tidak merasa berutang budi kepada siapapun sehingga
dapat menyatakan kebenaran dengan bebas.
Hal inilah yang
terjadi pada Rosululloh, Alloh menjaganya agar dari kehidupan beliau sebelum
menjadi Rosul tidak ada unsur balas budi sehingga tidak menimbulkan pengaruh
buruk terhadap dakwahnya sesudah menjadi Rosul.
10 Jan 2015
Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.2
Saat Rosululloh berumur 12 tahun beliau untuk pertama kalinya diajak
pamannya ke Syam untuk berdagang. Sebenarnya pamannya tidak mengajak karena
jaraknya yang jauh, saat akan pergi Rosululloh memegangi dengan kuat punggung
kuda pamannya dan berkata : Yaa Abaku apakah tega meninggalkanku sendirian dan
Rosululloh meminta ikut pergi. Abu Tholib berkata dengan perasaan tidak tega :
Demi Alloh, aku pasti membawanya pergi, ia tidak boleh berpisah denganku dan
aku tidak boleh berpisah dengannya. Lalu beliaupun membawa Rosululloh, saat itu
musim panas orang-orang mencela Abu Tholib karena membawa anak kecil. Lalu
berangkatlah rombongan dagang Quroisy dengan dipimpin Abu Tholib, kuda yang
dinaiki Rosululloh selalu didepan memimpin.
Ketika rombongan tiba di Busro Syam mereka beristirahat dekat sebuah
pohon dimana didekat pohon tersebut ada sebuah rumah milik pendeta Buhairo
dimana rumah tersebut tempat berkumpulnya umat Nashoro disaat itu untuk menimba
ilmu. Sebelum kafilah dagang Quroisy sampai ditempat itu, Buhairo telah melihat
dari dalam rumahnya. Ia melihat keanehan dari kafilah ini, Ia melihat ada awan
yang selalu menaungi kafilah ini sedang kafilah lainnya tidak dinaungi. Maka
ketika ia melihat kafilah tersebut berhenti dekat rumahnya maka ia menyuruh
pembantunya untuk membuat makanan yang banyak untuk menjamu kafilah Abu Tholib.
Padahal selama ini Buhairo tidak pernah peduli kepada kafilah.
Buhairo lalu pergi mendatangi kafilah ini dan mengundang semua rombongan
untuk makan dirumahnya, lalu mereka semua pergi ke rumah Buhairo. Rumahnya
mempunyai pintu yang pendek sehingga jika masuk semua orang menundukkan
kepalanya. Sedang Rosululoh tidak ikut kedalam rumah karena masih kecil. Beliau
berada dibawah pohon menjaga perbekalan rombongan.
Saat Buhairoh tidak melihat sifat diantara rombongan yang telah ia
ketahui maka ia berkata : Hai orang Quroisy jangan sampai ada yang tidak makan
makananku ini. Lalu seorang dari Quroisy menjawab : Hai Buhairo tidak ada yang
tertinggal makan makananmu dari kami kecuali anak muda yang paling kecil
diantara kami, ia menjaga bekal rombongan. Buhairo berkata : Panggillah anak
itu kemari. Salah seorang Quroisy berkata : Aib bagi kami kalau anak Abdulloh
bin Abdul Mutholib tidak ikut makan bersama kami. Lalu orang tersebut pergi
keluar memanggil Rosululoh. Buhairo melihat dari dalam rumah terpana karena ia
melihat Rosululloh duduk dibawah pohon dimana awan menaunginya diatas pohon
tersebut, ranting-ranting pohon berjuntai kepada beliau. Buhairo telah melihat
di kitab bahwa akan berteduh disebuah pohon anak kecil yang akan jadi Nabi
akhir zaman bernama Muhammad. Pohon itu tidak akan diduduki setelah Nabi Isa
kecuali diduduki Nabi akhir zaman, maka menjadi yakinlah Buhairoh, lalu
Rosululloh datang kerumah Buhairo untuk ikut makan. Saat akan masuk pintu yang
dilewati Rosululloh menjadi tinggi sehingga Rosululloh tidak menundukkan badan
dan kepalanya (Rahmat Allah). Melihat hal itu bertambah keyakinan Buhairo dan
beliau langsung memeluk Rosululloh serta menciuminya dan bersyahadat.
Saat Rosululloh sudah didalam rumah, Buhairoh menemukan sifat-sifat
kenabian yakni ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Rosululloh misalnya
tentang tidur beliau, postur beliau dan lain-lain, lalu ia melihat punggung
Rosululloh ada cap kenabian seperti yang tertera persis di kitab Buhairo.
Kemudian Buhairo menemui Abu Tholib dan menanyakan segala sesuatu tentang
Rosululloh. Setelah mendengar semua penjelasan bertambah yakinlah Buhairo dan
ia pun berkata kepada Abu Tholib agar segera membawa pulang Rosululloh setelah
selesai berdagang di Syam karena untuk menjaga dari penglihatan orang-orang
Yahudi. Buhairo berkata : Demi Alloh jika mereka (yahudi) melihat padanya
seperti yang aku lihat mereka pasti membunuhnya. Sesungguhnya akan terjadi
sesuatu yang besar terhadap anak ini. Lalu Abu Tholib menjawab : Allah yang
akan melindunginya jika benar anakku ini akan menjadi Rosul.
Saat perjalanan pulang ada unta buas yang berhari-hari ditengah jalan
menghalangi orang lewat maka Rosululloh mendekatinya dan unta itu sujud didepan
Rosululloh dan beliaupun naik diatasnya. Selama perjalanan ke Syam sampai
pulang lagi perbekalan makanan dan minuman tidak pernah habis padahal biasanya
dalam perjalanan pulang sudah habis ditengah jalan. Melihat semua kejadian itu
makin yakinlah Abu Tholib akan apa yang sudah dikatakan Buhairo. Sejak saat itu
makin bertambah kecintaan Abu Tholib kepada Rosululloh bahkan beliau sangat
menjaganya dengan hati-hati.
Pernah suatu hari ada seorang dukun di Mekkah dimana saat itu sudah
menjadi kebiasaan orang Quroisy datang kepada dukun tersebut yang bernama Lihb
dengan membawa anak-anaknya untuk diramal. Abu Tholib juga datang, saat Lihb
melihat Rosululloh dengan seksama dan lama padahal saat itu ia sedang meramal
anak lain maka Abu Tholib pun segera membawa pergi Rosululloh karena melihat
keseriusan Lihb saat memandang Rosululloh. Saat Abu Tholib pergi menyembunyikan
Rosululloh dari penglihatan Lihb dukun tersebut berkata : celakalah kalian bawa
kesini anak muda yang aku lihat tadi. Demi Allah anak muda ini akan menjadi
orang besar di kemudian hari.
9 Jan 2015
Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.1
Setelah kakeknya wafat Rosululloh diasuh pamannya yang bernama Abu
Tholib, beliau adalah saudara kandung ayahnya. Nama sebenarnya adalah Abdu
Manaf disebut Abu Tholib karena putra pertamanya bernama Tholib. Beliau adalah
pemimpin kaumnya dan beliau bukan orang kaya dan memiliki anak banyak. Setelah
Rosululloh dalam asuhannya banyak berkah yang turun di rumahnya. Beliau
mengasuh Rosululloh melebihi anak-anaknya demikian pula istrinya yang bernama
Fathimah binti Asad bin Hasyim (wanita bani Hasyim pertama yang melahirkan anak
dari bani Hasyim pula sepupu Abu Tholib ibu Sayyidina Ali). Fathimah binti Asad
berkata : Rosululloh tidak bersifat anak kecil padahal saat itu beliau seorg
anak kecil. Setiap bangun tidur keadaan beliau sudah bersih dan penuh bau
harum, saat makan tidak pernah berebut sehingga tidak tersisa makanan untuk
Rosululloh. Melihat hal itu Fathimah binti Asad berkata : Apakah engkau sudah
makan?, Rosululloh menjawab : Aku sudah makan wahai ibuku, aku telah pergi
minum air zam-zam.
Sejak saat itu Abu Tholib melarang anak-anaknya, istrinya dan dirinya
sendiri makan minum sebelum Rosululloh yang memulainya dulu. Maka tampaklah
keberkahan beliau dimana jika sebelumnya mereka makan dulu biarpun kenyang tapi
selesai makan tidak merasakan kenyang, tetapi setelah Rosululloh yang
memulainya maka terjadi kebalikannya jadi kenyang walau tidak banyak makan.
Setiap makan Abu Tholib selalu memangkunya. Saat memeras susu jika keluarga Abu
Tholib yang memerasnya maka susu kambing tidak cukup untuk semua keluarga
tetapi jika Rosululloh yang memerasnya maka sampai lebih-lebih susunya.
Pernah suatu saat terjadi paceklik yang panjang maka orang-orang semua
datang ke Abu Tholib untuk memintanya berdoa, lalu Abu Tholib pergi dengan
menggendong Rosululloh bersama kaumnya ke Ka'bah. Punggung Rosululloh
ditempelkan di dinding Ka'bah lalu mereka semua berdoa dipimpin Abu Tholib
tiba-tiba awan datang dari segala penjuru sehingga sangat hitam lalu turun
hujan yang sangat lebat sehingga suburlah kembali lembah dan ladang. Semua itu
karena berkah Rosululloh.
Langganan:
Komentar (Atom)
