14 Jan 2015

Pernikahan Rosululloh dengan Sayyidah Khodijah BAG.2

Ketika Sayyidah Khodijah mendengar informasi tentang keagungan kejujuran Rosululloh dan kemuliaan akhlaqnya beliau mengutus orang kepercayaannya seorang laki-laki budak beliau yang bernama Maisaroh untuk menemui Rosululloh dan meminta untuk menjualkan barang dagangannya ke Syam dan akan memberikan dagangan yang lebih baik dari yang diberikan kepada orang lain sehingga gajinyapun akan lebih banyak juga. Rosululloh menerimanya dengan senang hati bukan karena hal diatas tapi karena beliau ingin meringankan beban pamannya. Rosululloh bekerja bukan tujuan mencari dunia karena dunia yang tunduk kepada beliau.
Akhirnya Rosululloh berangkat ke Syam dan berhasil membawa keuntungan berlipat ganda. Selama perjalanan tersebut Maisaroh sangat mengagumi kemuliaan akhlaq beliau, dalam perjalanan tersebut Rosululloh berhenti dibawah naungan pohon dekat rumah seorang pendeta yang bernama Nastur. Nastur mendekati Maisaroh yang beristirahat tidak jauh dari Rosululloh dan berkata siapa laki-laki yang berhenti berteduh di bawah pohon itu?, Maisaroh menjawab ia seorang dari Quroisy dari penduduk tanah haram. Pendeta tersebut berkata tidak akan berhenti dibawah pohon tersebut kecuali ia seorang Nabi karena pohon tersebut pohon yang diduduki Nabi Isa dan dalam Taurot telah disebutkan bahwa yang duduk dibawah pohon tersebut hanyalah seorang Nabi, maka Nastur mendekati Rosululloh dan minta ijin melihat tanda nubuwwah, setelah melihatnya maka bertambah yakinlah Nastur bahwa Rosululloh adalah seorang Nabi dan Nasturpun langsung beriman. Maisaroh juga melihat dalam perjalanan tersebut awan yang selalu menaungi Rosululloh karena saat itu cuacanya sedang panas-panasnya.
Setelah sampai di Mekkah, Rosululloh menyerahkan hasil dagangannya dan Sayyidah Khodijah sangat gembira sekali akan keuntungan yang berlipat ganda, kemudian Rosululloh pulang kerumahnya, Maisaroh menceritakan segala peristiwa yang dialaminya saat perjalanan bersama Rosululloh. Sayyidah Khodijah sangat memperhatikan cerita Maisaroh dengan seksama dan terkejut dengan keberkahan yang diperolehnya dari perniagaan Rosululloh. Sayyidah Khodijah adalah wanita yang berpendirian kuat, cerdas, terhormat dan mempunyai akhlak mulia yang memang sudah dipersiapkan Allah untuk mendampingi Rosululloh kelak, maka setelah mendengar cerita Maisaroh tersebut beliau menyatakan hasratnya untuk menikah dengan Rosululloh, beliaupun mengutus teman dekatnya yang bernama Nafisah binti Muniyah untuk menyampaikannya kepada Rosululloh. Sayyidah Khodijah berpesan kepada sahabatnya tersebut untuk mengatakan pesannya yang berbunyi : Hai saudara misanku, sungguh aku tertarik padamu karena kekerabatanmu, kemuliaanmu di kaummu, jejujuranmu, kebaikan akhlaqmu dan kebenaran tutur katamu. Sayyidah Khodijah menawarkan dirinya kepada Rosululloh.
Ketika Sayyidah Khodijah mengungkapkan tawarannya, Rosululloh menceritakan kepada paman-pamannya dan semua keluarga Rosulullohpun menyetujuinya, demikian pula Rosululloh menyetujuinya karena kemuliaan akhlaq Sayyidah Khodijah dan kehormatan dirinya di kaum Quroisy yakni wanita yang paling mulia nasabnya dan terhormat. Lalu Rosululloh bersama pamannya Hamzah bin Abdul Mutholib pergu meminang Sayyidah Khodijah, tidak lama kemudian Rosululloh menikah dengan Sayyidah Khodijah dimana saat itu usia Rosululloh 25 tahun dan istrinya berusia 40 tahun. Pernikahan tersebut terjadi dua bulan sesudah Rosululloh pergi membawa dagangan Sayyidah Khodijah ke Syam. Rosululloh memberi mahar sebanyak 20 lembu. Sayyidah Khodijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rosululloh dan Rosululloh tidak menikah dengan wanita lain semasa hidup Sayyidah Khodijah. Rosululloh menikah lagi dengan wanita lain setelah Sayyidah Khodijah meninggal dunia.
Sebelum menikah dengan Rosululloh, Sayyidah Khodijah menceritakan tentang Rosululloh kepada sepupunya yang ahli kitab injil seperti yang beliau dengar dari cerita Maisaroh. Sepupunya Waroqoh bin Naufal berkata : Jika ini benar wahai Khodijah sesungguhnya Muhammad adalah nabi untuk umat ini seperti yang dikatakan dalam Injil. Aku tau persis umat ini akan mempunyai nabi yang ditunggu kedatangannya dan sekarang telah tiba masa kemunculan nabi tersebut, namun hingga kapan masa penantian ini ?, Oleh karena itulah Sayyidah Khodijah yang cerdas berhasrat untuk menikah dengan Rosululloh, jadi bukan bertujuan nafsu tapi bertujuan ingin mendampingi calon pembawa risalah Allah dimuka bumi.

13 Jan 2015

Pernikahan Rosululloh dengan Sayyidah Khodijah BAG.1

Sebelum membahas pernikahan beliau kita bahas dulu sekelumit tentang Sayyidah Khodijah. Nasabnya adalah : Khodijah binti khuwailid bin asad bin abdul 'uzza bin qushoy. Sehingga beliau bertemu nasab dengan Rosululloh dari jalur ayahnya pada Qushoy bin Kilab. Ibunya adalah Fathimah binti Zaidah bin Al Ashom dari bani Amir bin Luay. Jadi ibu beliau bertemu nasab dengan Rosululloh dari jalur ibunya pada Luay bin Gholib.
Dijaman jahiliyah Khadijah dijuluki 'Afifah Thohiroh (wanita suci) dan penghulu wanita Quroisy. Hal itu karena beliau terkenal sangat menjaga kesuciannya baik dari segi jasmani maupun rohani dimana saat itu wanita sangat bebas dalam bergaul apalagi jika wanita dari bangsawan lebih bebas lagi pergaulannya. Tapi tidak untuk beliau walaupun dari kalangan bangsawan dan punya nasab yang mulia beliau sangat menjaga akhlaq. Beliau tidak pernah berhubungan dengan bukan mahromnya. Selain itu beliau adalah seorang ahli kitab karena tiap hari beliau selalu pergi belajar Taurot ke saudara sepupunya yang bernama Waroqoh bin naufal bin asad. Beliau mempunyai sifat yang sangat cerdas dan berpendirian kuat. Beliau tidak pernah menyembah berhala. Beliau wanita Quroisy termulia nasabnya, terhormat, terkaya dan sangat cantik. Sehingga tidak heran jika semua orang ingin menikah dengan beliau.
Beliau telah menikah dua kali yang semuanya telah wafat. Suami pertamanya bernama Atiq bin Abid mempunyai anak bernama Hind. Suaminya ini seorang pedagang saat wafat meninggalnya warisan yang banyak. Suami keduanya adalah Nabbasy bin Zuroroh mempunyai anak Abu Haalah dan Hindun, suaminya ini juga seorang pedagang saat wafat meninggalkan warisan yang sangat banyak juga bahkan melebihi peninggalan harta suami pertama. Oleh karena itu setelah suaminya wafat beliau yang melanjutkan usaha perdagangan suaminya dan beliau terkenal seorang saudagar yang sangat kaya dijaman itu karena beliau orang yang sangat cerdas maka tidak heran bila perdagangannya sangat sukses bahkan sampai ke negeri Syam.
Pernah suatu hari saat beliau sedang belajar kitab pada Waroqoh sepupunya tersebut berkata bahwa Nabi akhir zaman sebentar lagi akan muncul. Kata kata tersebut sering dikatakan Waroqoh. Suatu saat beliau berkumpul dengan teman-temannya sesama wnita bangsawan Quroisy. Salah satu dari teman beliau adalah seorang wanita yang ahlu kitab juga berkata bahwa akan datang seorang Nabi akhir zaman dan siapa yang mau menjadi istrinya? Temannya tersebut berkata sambil mabuk disaat itu khomer belum haram dan Sayyidah Khodijah tidak pernah minum khomr. Saat temannya mengucapkan itu beliau dalam hati berdoa agar beliau dapat jadi istri Nabi tersebut. Sejak saat itu walaupun banyak orang yang melamar beliau, beliau selalu menolaknya karena beliau mempunyai keyakinan yang kuat ingin menjadi istri Nabi akhir zaman yang akan muncul.

12 Jan 2015

Perang Al Fijjar & Perjanjian Fudhul

Perang Al Fijjar
Ketika usia Rosululloh 14 atau 15 tahun terjadi perang fijjar. Disebut perang fijjar karena terjadi dibulan harom yakni bulan Rajab, perang ini terjadi antara qobilah Quroisy dan Hawazin. Hawazin adalah suku terbesar kedua setelah Quroisy. Perang Fijjar terjadi 4 kali dan Rosululloh mengikuti perang yang keempat. Dalam perang tersebut Rosululloh bertugas melindungi paman-pamannya dari panah musuh.
Penyebab perang tersebut adalah seorang Quroisy yang bernama Barrodh membunuh Uwais dari Hawazin di Ukadz (nama pasar di Mekkah dimana saat itu pasar Ukadz adalah pusat berkumpulnya manusia dari segala daerah untuk berdagang). Kejadian tersebut terjadi di bulan haram sehingga memicu terjadinya perang.
Nb: sebelum datang Islam bulan haram sangat dimuliakan. Sehingga saat Islam datang bulan haram tambah dimuliakan lagi.
Hilful Fudhul
Hilful Fudhul (perjanjian Al Fudhul) adalah perjanjian yang diadakan qobilah Quroisy di rumah Abdulloh bin Jud'an karena ia orang yang paling tertua. Isi perjanjian tersebut diantaranya:
1.        Jika ada orang teraniaya di Mekkah baik penduduk asli atau orang yang datang ke Mekkah mereka akan melindunginya.
2.        Orang yang menganiaya harus mengembalikan apa yang diambilnya dari orang yang teraniaya baik harta atau kehormatan harga diri.
Rosululloh bersabda:
لقد شهدت في دار عبدالله بن جدعان حلفامااحب ان لي له حمرالنعم،ولوادعي به في الاسلام لاجبت
(Sungguh aku ikut menghadiri perjanjian dirumah Abdulloh bin Jud'an. Perjanjian tersebut lebih aku sukai daripada unta merah. Jika dalam Islam aku diundang untuk mengadakan perjanjian seperti itu pasti aku memenuhinya).
Nb : Tambahan sedikit tentang pasar Ukadz. Selain untuk berdagang pasar ini digunakan untuk festival seni yang diadakan mulai bulan dzulqodah sampai dzulhijjah. Festival paling terkenal saat itu adalah lomba para penyair. Ustad Muhammad Haddad mengatakan bahwa ilmu syiir dan ilmu nasab di era jahiliyyah sangat berarti dan berharga. Jika mereka menguasainya maka dianggap 'allamah oleh sebab itu acara tahunan tersebut sangat di nanti. Karya syiir terbaik akan ditulis dengan tinta emas diatas kain mewah lalu digantungkan di dinding Ka'bah yang kemudian disebut dengan Mu'allaqot. Mu'allaqot di jaman tersebut yang paling terkenal adalah Mu'allaqot Umru al Qois, Zuhair, Nabighoh, Antaroh, Labid bin Robi'ah (jadi pembela Rosululloh). Sayyidah Aisyah sangat fasih pada muallaqot Umru al Qois. Biasanya syiir mu'allaqot itu berisi syiir yang panjang dan indah dengan persajakan yang rumit (makna yang tinggi). Ustad Muhammad mengatakan dulu para habaib mengadakan perkumpulan para penyair ulung tentang mahabbah pada Allah dan RosulNya di masjid Serang Surabaya.
Penyair Rosululloh yakni Hasan bin Tsabit sangat ditakuti kafir Quroisy karena tajamnya syiir yang ditujukan pada mereka. Ditambah lagi Rosululloh menyuruhnya belajar ilmu nasab pada Sahabat Abubakar Shiddiq maka dia jadi semakin ditakuti. Penyair Rosululloh yang lain yakni Kaab bin Zuhair karena indahnya syiirnya sampai Rosululloh memberikan burdahnya sama seperti Imam Bushiri.

11 Jan 2015

Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.3

Memasuki masa remaja Rosululloh mulai berusaha mencari rezeki untuk membantu pamannya dengan mengembalakan kambing dan mendapat upah beberapa qiroth (Ukuran berat perak ada pendapat lain ukuran berat emas). Selama masa mudanya Allah telah memeliharanya dan melindunginya dari penyimpangan-penyimpangan jahiliyah. Pernah pada suatu saat beliau akan pergi untuk berkumpul dengan teman-temannya yang sedang pesta dan mendengarkan nyanyian. Sebelum sampai ditempat temannya tersebut Allah menutup telinga beliau sehingga tidak sampai mendengar nyanyian dan mengirim rasa kantuk sehingga beliau tertidur. Pada malam yang lain juga terjadi hal seperti itu sehingga sejak saat itu beliau tidak pernah lagi menginginkan keburukan.
Sehingga saat itu beliau menjadi orang yang paling kesatria di kaumnya, paling baik akhlaqnya, paling mulia nasabnya, paling baik pergaulannya, paling santun, paling baik tutur katanya, paling jujur, paling jauh dari keburukan dan paling jauh dari akhlaq yang mengotori sifat orang laki-laki sehingga kaumnya menggelarinya Al Amin (orang yang dapat dipercaya karena terkumpul segala sifat kebaikan pada diri beliau). Semua itu karena 'inayah Ilahi secara khusus pada beliau.
Nb : Sehubungan dengan usaha Rosululloh mengembalakan kambing untuk tujuan mencari rezeki terdapat 3 ibroh (pelajaran) yang dapat diambil menurut Syekh Muhammad Sa'id Romadhon Al Buthi (guru Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki) yakni :
1.    Begitu merasakan kemampuan untuk bekerja beliau segera melakukannya dengan sekuat tenaga untuk meringankan beban pamannya yang selama ini mengasuhnya dengan kasih sayang yang sangat. Walaupun hasilnya tidak begitu banyak dan tidak begitu penting bagi pamannya, tetapi ini merupakan akhlaq yang mengungkapkan rasa syukur, kecerdasan dan kebaikan prilaku.
2.   Agar kita mengetahui bahwa harta yang terbaik adalah harta yang diperoleh dari usaha sendiri tidak meminta minta
3.      Para ahli dakwah akan dihargai jika mencari usaha sendiri dan tidak menjadikan dakwah sebagai sumber rezekinya yakni mengharap dikasi orang upah dari dakwahnya dengan mencari usaha sendiri maka akan bebas dalam berdakwah sehingga tidak merasa berutang budi kepada siapapun sehingga dapat menyatakan kebenaran dengan bebas.
Hal inilah yang terjadi pada Rosululloh, Alloh menjaganya agar dari kehidupan beliau sebelum menjadi Rosul tidak ada unsur balas budi sehingga tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap dakwahnya sesudah menjadi Rosul.

10 Jan 2015

Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.2



Saat Rosululloh berumur 12 tahun beliau untuk pertama kalinya diajak pamannya ke Syam untuk berdagang. Sebenarnya pamannya tidak mengajak karena jaraknya yang jauh, saat akan pergi Rosululloh memegangi dengan kuat punggung kuda pamannya dan berkata : Yaa Abaku apakah tega meninggalkanku sendirian dan Rosululloh meminta ikut pergi. Abu Tholib berkata dengan perasaan tidak tega : Demi Alloh, aku pasti membawanya pergi, ia tidak boleh berpisah denganku dan aku tidak boleh berpisah dengannya. Lalu beliaupun membawa Rosululloh, saat itu musim panas orang-orang mencela Abu Tholib karena membawa anak kecil. Lalu berangkatlah rombongan dagang Quroisy dengan dipimpin Abu Tholib, kuda yang dinaiki Rosululloh selalu didepan memimpin.
Ketika rombongan tiba di Busro Syam mereka beristirahat dekat sebuah pohon dimana didekat pohon tersebut ada sebuah rumah milik pendeta Buhairo dimana rumah tersebut tempat berkumpulnya umat Nashoro disaat itu untuk menimba ilmu. Sebelum kafilah dagang Quroisy sampai ditempat itu, Buhairo telah melihat dari dalam rumahnya. Ia melihat keanehan dari kafilah ini, Ia melihat ada awan yang selalu menaungi kafilah ini sedang kafilah lainnya tidak dinaungi. Maka ketika ia melihat kafilah tersebut berhenti dekat rumahnya maka ia menyuruh pembantunya untuk membuat makanan yang banyak untuk menjamu kafilah Abu Tholib. Padahal selama ini Buhairo tidak pernah peduli kepada kafilah.
Buhairo lalu pergi mendatangi kafilah ini dan mengundang semua rombongan untuk makan dirumahnya, lalu mereka semua pergi ke rumah Buhairo. Rumahnya mempunyai pintu yang pendek sehingga jika masuk semua orang menundukkan kepalanya. Sedang Rosululoh tidak ikut kedalam rumah karena masih kecil. Beliau berada dibawah pohon menjaga perbekalan rombongan.
Saat Buhairoh tidak melihat sifat diantara rombongan yang telah ia ketahui maka ia berkata : Hai orang Quroisy jangan sampai ada yang tidak makan makananku ini. Lalu seorang dari Quroisy menjawab : Hai Buhairo tidak ada yang tertinggal makan makananmu dari kami kecuali anak muda yang paling kecil diantara kami, ia menjaga bekal rombongan. Buhairo berkata : Panggillah anak itu kemari. Salah seorang Quroisy berkata : Aib bagi kami kalau anak Abdulloh bin Abdul Mutholib tidak ikut makan bersama kami. Lalu orang tersebut pergi keluar memanggil Rosululoh. Buhairo melihat dari dalam rumah terpana karena ia melihat Rosululloh duduk dibawah pohon dimana awan menaunginya diatas pohon tersebut, ranting-ranting pohon berjuntai kepada beliau. Buhairo telah melihat di kitab bahwa akan berteduh disebuah pohon anak kecil yang akan jadi Nabi akhir zaman bernama Muhammad. Pohon itu tidak akan diduduki setelah Nabi Isa kecuali diduduki Nabi akhir zaman, maka menjadi yakinlah Buhairoh, lalu Rosululloh datang kerumah Buhairo untuk ikut makan. Saat akan masuk pintu yang dilewati Rosululloh menjadi tinggi sehingga Rosululloh tidak menundukkan badan dan kepalanya (Rahmat Allah). Melihat hal itu bertambah keyakinan Buhairo dan beliau langsung memeluk Rosululloh serta menciuminya dan bersyahadat.
Saat Rosululloh sudah didalam rumah, Buhairoh menemukan sifat-sifat kenabian yakni ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Rosululloh misalnya tentang tidur beliau, postur beliau dan lain-lain, lalu ia melihat punggung Rosululloh ada cap kenabian seperti yang tertera persis di kitab Buhairo. Kemudian Buhairo menemui Abu Tholib dan menanyakan segala sesuatu tentang Rosululloh. Setelah mendengar semua penjelasan bertambah yakinlah Buhairo dan ia pun berkata kepada Abu Tholib agar segera membawa pulang Rosululloh setelah selesai berdagang di Syam karena untuk menjaga dari penglihatan orang-orang Yahudi. Buhairo berkata : Demi Alloh jika mereka (yahudi) melihat padanya seperti yang aku lihat mereka pasti membunuhnya. Sesungguhnya akan terjadi sesuatu yang besar terhadap anak ini. Lalu Abu Tholib menjawab : Allah yang akan melindunginya jika benar anakku ini akan menjadi Rosul.
Saat perjalanan pulang ada unta buas yang berhari-hari ditengah jalan menghalangi orang lewat maka Rosululloh mendekatinya dan unta itu sujud didepan Rosululloh dan beliaupun naik diatasnya. Selama perjalanan ke Syam sampai pulang lagi perbekalan makanan dan minuman tidak pernah habis padahal biasanya dalam perjalanan pulang sudah habis ditengah jalan. Melihat semua kejadian itu makin yakinlah Abu Tholib akan apa yang sudah dikatakan Buhairo. Sejak saat itu makin bertambah kecintaan Abu Tholib kepada Rosululloh bahkan beliau sangat menjaganya dengan hati-hati.
Pernah suatu hari ada seorang dukun di Mekkah dimana saat itu sudah menjadi kebiasaan orang Quroisy datang kepada dukun tersebut yang bernama Lihb dengan membawa anak-anaknya untuk diramal. Abu Tholib juga datang, saat Lihb melihat Rosululloh dengan seksama dan lama padahal saat itu ia sedang meramal anak lain maka Abu Tholib pun segera membawa pergi Rosululloh karena melihat keseriusan Lihb saat memandang Rosululloh. Saat Abu Tholib pergi menyembunyikan Rosululloh dari penglihatan Lihb dukun tersebut berkata : celakalah kalian bawa kesini anak muda yang aku lihat tadi. Demi Allah anak muda ini akan menjadi orang besar di kemudian hari.

9 Jan 2015

Rosululloh Diasuh Pamannya BAG.1



Setelah kakeknya wafat Rosululloh diasuh pamannya yang bernama Abu Tholib, beliau adalah saudara kandung ayahnya. Nama sebenarnya adalah Abdu Manaf disebut Abu Tholib karena putra pertamanya bernama Tholib. Beliau adalah pemimpin kaumnya dan beliau bukan orang kaya dan memiliki anak banyak. Setelah Rosululloh dalam asuhannya banyak berkah yang turun di rumahnya. Beliau mengasuh Rosululloh melebihi anak-anaknya demikian pula istrinya yang bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim (wanita bani Hasyim pertama yang melahirkan anak dari bani Hasyim pula sepupu Abu Tholib ibu Sayyidina Ali). Fathimah binti Asad berkata : Rosululloh tidak bersifat anak kecil padahal saat itu beliau seorg anak kecil. Setiap bangun tidur keadaan beliau sudah bersih dan penuh bau harum, saat makan tidak pernah berebut sehingga tidak tersisa makanan untuk Rosululloh. Melihat hal itu Fathimah binti Asad berkata : Apakah engkau sudah makan?, Rosululloh menjawab : Aku sudah makan wahai ibuku, aku telah pergi minum air zam-zam.
Sejak saat itu Abu Tholib melarang anak-anaknya, istrinya dan dirinya sendiri makan minum sebelum Rosululloh yang memulainya dulu. Maka tampaklah keberkahan beliau dimana jika sebelumnya mereka makan dulu biarpun kenyang tapi selesai makan tidak merasakan kenyang, tetapi setelah Rosululloh yang memulainya maka terjadi kebalikannya jadi kenyang walau tidak banyak makan. Setiap makan Abu Tholib selalu memangkunya. Saat memeras susu jika keluarga Abu Tholib yang memerasnya maka susu kambing tidak cukup untuk semua keluarga tetapi jika Rosululloh yang memerasnya maka sampai lebih-lebih susunya.
Pernah suatu saat terjadi paceklik yang panjang maka orang-orang semua datang ke Abu Tholib untuk memintanya berdoa, lalu Abu Tholib pergi dengan menggendong Rosululloh bersama kaumnya ke Ka'bah. Punggung Rosululloh ditempelkan di dinding Ka'bah lalu mereka semua berdoa dipimpin Abu Tholib tiba-tiba awan datang dari segala penjuru sehingga sangat hitam lalu turun hujan yang sangat lebat sehingga suburlah kembali lembah dan ladang. Semua itu karena berkah Rosululloh.