Setelah ibunya wafat Rosululloh dalam pengasuhan kakeknya. Kakeknya
sangat menyayanginya melebihi sayangnya kepada anak dan cucunya yang lain.
Abdul Mutholib mempunyai kursi khusus di Ka'bah karena beliau seorang pemimpin
bani Hasyim dan tidak ada seorangpun yang berani mendudukinya. Suatu saat
Rosululloh datang ke kursi tersebut dan duduk diatasnya. Melihat itu
paman-pamannya mengambil beliau dari kursi tersebut agar tidak sampai ketahuan
kakeknya tetapi ternyata kakek beliau melihatnya dan berkata : jangan larang
anakku (Rosululloh) duduk di atas kursi ini. Demi Allah ia kelak menjadi orang
besar. Lalu Abdul Mutholib mendudukkan Rosululloh bersamanya, mengusap
punggungnya dengan tangannya dan beliau senang atas apa yang diperbuat oleh
Rosululloh. Ketika Rosululloh berusia 8 tahun Abdul Mutholib wafat.
Sebelum wafat beliau mengumpulkan 6 putrinya (bibi -bibi Rosululloh)
dengan berkata : menangislah kalian untukku agar aku dapat mendengar apa yang
kalian katakan sebelum aku menghembuskan nafas terakhir, lalu para putrinya
mengucapkan syiir duka cita Abdul Mutholib memberi isyarat senang dengan syiir
yang diucapkan putrinya, kemudian Abdul Mutholib menyerahkan Rosululloh agar
diasuh oleh anaknya yakni Abu Tholib (paman Rosululloh) karena beliau saudara
sekandung ayah Rosululloh. Abdul Mutholib juga menyerahkan pengelolaan sumur
zam-zam dan pemberian air minum kepada jamaah haji dilanjutkan Abbas bin Abdul
Mutholib orang paling muda diantara saudaranya. Jabatan tersebut beliau pegang
sampai Islam datang kemudian Rosululloh mengesahkannya seperti sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar