Setelah peristiwa pembelahan dada Rosululloh, saudara-saudara sesusu
beliau yang menyaksikan sambil bersembunyi berlari pulang dan menceritakan pada
kedua ortunya. Lalu Ibu Halimah dan suaminya yang bernama Harits bin Abdul
'Uzza Al-Hawazin pergi keluar mencari Rosululloh dengan rasa khawatir yang
sangat. Keduanya mendapati Rosululloh berdiri dengan wajah pucat lalu mereka
segera memeluknya dan bertanya apa yang terjadi Rosululloh kenudian
menceritakan kejadiannya. Saat pulang kerumah Harits berkata : wahai Halimah,
aku khawatir anak ini sakit oleh karena itu antarkan anak ini ke keluarganya
sebelum sakitnya terlihat.
Sejak itu Halimah takut akan keselamatan Rosululloh dan niat akan
mengembalikannya tetapi sebelum dikembalikan Halimah membawa Rosululloh ke
pendeta untuk diobati karena disangka sakit. Saat dirumah pendeta Halimah
ditanya secara detail karena ia melihat beberapa keanehan dalam diri
Rosululloh, Halimah lalu menjawab dengan jujur, tiba-tiba pendeta tersebut
keluar ke kaumnya dan mengatakan bahwa ia melihat tanda-tanda nubuwwah seperti
yang ada didalam Taurot dan menyeru kaumnya untuk membunuhnya. Melihat itu
Halimah sangat ketakutan dan lari membawa Rosululloh pergi, setiap ditanya
orang Halimah mengatakan kalau Rosululloh adalah anaknya.
Halimah dan suaminya menggendong Rosululloh pergi ke Mekkah untuk
diserahkan pada ibunya, saat perjalanan ke Mekkah, ketika sedang beristirahat,
Rosululloh menghilang dikerumunan manusia. Halimah sangat ketakutan dan segera
mencarinya tetapi tidak ketemu. Akhirnya Halimah datang ke Abdul Mutholib dan
bercerita. Abdul Mutholib segera pergi ke samping Ka'bah dan berdoa agar
cucunya dikembalikan oleh Allah, tidak lama kemudian seorang Quroisy yang masih
saudara ayah Rosululloh dan Waroqoh bin Naufal (sepupu sayyidah Khodijah)
tiba-tiba datang dengan menuntun Rosululloh, dia menemukan beliau sendirian di
Mekkah atas. Abdul Mutholib langsung meletakkan beliau di pundaknya sambil
thowaf di Ka'bah sebagai rasa syukur kemudian Abdul Mutholib membawa Rosululloh
ke ibunya.
Selama berada bersama keluarganya Rosululloh dalam pemeliharaan Allah
karena Allah berkehendak memuliakan beliau. Ketika Rosululloh berusia 6 tahun
beliau diajak ibunya pergi berziarah kemakam ayahnya dan berziarah kesaudara
ibunya bani Najjar Qobilah Khozroj Madinah. Dalam perjalanan tersebut ikut pula
Ummu Aiman Barokah Al-habasyah. Beliau tinggal di Madinah selama sebulan. Dalam
perjalanan pulang ke Mekkah, Ibu beliau jatuh sakit disebuah desa yang bernama
Abwa letaknya antara Mekkah dan Madinah. Disebut Abwa karena letaknya di
dataran rendah sehingga jika hujan turun sering banjir. Sakitnya ibu beliau
tersebut akhirnya menjadi sebab ibu beliau wafat. Rosululloh amat sangat sedih
karena belum lama berkumpul dengan ibunya yakni hanya 2 tahun dimana beliau
baru merasakan kehangatan kasih sayang ibunya. Rosululloh dan Ummu Aiman
sendiri yang menguburnya di desa Abwa tersebut. Beliau tinggal di Abwa selama 5
hari karena menunggu keluarganya dari Mekkah yang akan menjemputnya. Setelah
menunggu datanglah kakeknya mengambil beliau untuk dibawa pulang dan mulai hari
itu Rosululloh diasuh kakeknya. Menurut riwayat lain Rosululloh pulang ke
Mekkah hanya bersama Ummu Aiman tidak dijemput.
Saat peristiwa Fathul Mekkah Rosululloh lewat di Abwa dan beliau mengajak
para shohabatnya ke pekuburan dan menuju satu kuburan. Beliau dan para
shohabatnya duduk sambil bermunajat dan berbicara lama sekali dengan yang ada
didalam kuburan tersebut lalu terdengar suara tangisan beliau sehingga para
shohabat ikut menangis dengan perasaan cemas akan keadaan Rosululoh. Akhirnya
Umar bin Khothob memberanikan diri bertanya penyebab beliau menangis.
Rosululloh menjawab : Sesungguhnya kuburan yang kalian lihat aku munajat tadi
itulah kuburan ibuku Aminah binti Wahb. Dan sungguh aku minta ijin Tuhanku
untul menziarohinya lalu Allah memberi izin. Aku merasakan kembali kasih
sayangnya maka akupun menangis.
Didalam kitab Imam Suyuthi diceritakan sebelum wafat Sayyidah Aminah
mengucap syiir : Semoga Allah memberkahimu wahai anakku. Wahai putra dari ayah
yang telah pergi. Sang ayah yang dahulu lepas selamat dari sembelihan dengan
pertolongan Allah Yang Maha Bijaksana. Ditebus dengan undian yang berulang
kali. Dengan seratus unta peliharaan . Syiir Imam Bushiri yang artinya :
Berbahagialah bagi Aminah mempunyai putra yang dengannya dia mencapai
keutamaan, dan kaum hawa juga turut menjadi mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar