7 Jan 2015

Rosululloh Diasuh Ibunya



Setelah peristiwa pembelahan dada Rosululloh, saudara-saudara sesusu beliau yang menyaksikan sambil bersembunyi berlari pulang dan menceritakan pada kedua ortunya. Lalu Ibu Halimah dan suaminya yang bernama Harits bin Abdul 'Uzza Al-Hawazin pergi keluar mencari Rosululloh dengan rasa khawatir yang sangat. Keduanya mendapati Rosululloh berdiri dengan wajah pucat lalu mereka segera memeluknya dan bertanya apa yang terjadi Rosululloh kenudian menceritakan kejadiannya. Saat pulang kerumah Harits berkata : wahai Halimah, aku khawatir anak ini sakit oleh karena itu antarkan anak ini ke keluarganya sebelum sakitnya terlihat.
Sejak itu Halimah takut akan keselamatan Rosululloh dan niat akan mengembalikannya tetapi sebelum dikembalikan Halimah membawa Rosululloh ke pendeta untuk diobati karena disangka sakit. Saat dirumah pendeta Halimah ditanya secara detail karena ia melihat beberapa keanehan dalam diri Rosululloh, Halimah lalu menjawab dengan jujur, tiba-tiba pendeta tersebut keluar ke kaumnya dan mengatakan bahwa ia melihat tanda-tanda nubuwwah seperti yang ada didalam Taurot dan menyeru kaumnya untuk membunuhnya. Melihat itu Halimah sangat ketakutan dan lari membawa Rosululloh pergi, setiap ditanya orang Halimah mengatakan kalau Rosululloh adalah anaknya.
Halimah dan suaminya menggendong Rosululloh pergi ke Mekkah untuk diserahkan pada ibunya, saat perjalanan ke Mekkah, ketika sedang beristirahat, Rosululloh menghilang dikerumunan manusia. Halimah sangat ketakutan dan segera mencarinya tetapi tidak ketemu. Akhirnya Halimah datang ke Abdul Mutholib dan bercerita. Abdul Mutholib segera pergi ke samping Ka'bah dan berdoa agar cucunya dikembalikan oleh Allah, tidak lama kemudian seorang Quroisy yang masih saudara ayah Rosululloh dan Waroqoh bin Naufal (sepupu sayyidah Khodijah) tiba-tiba datang dengan menuntun Rosululloh, dia menemukan beliau sendirian di Mekkah atas. Abdul Mutholib langsung meletakkan beliau di pundaknya sambil thowaf di Ka'bah sebagai rasa syukur kemudian Abdul Mutholib membawa Rosululloh ke ibunya.
Selama berada bersama keluarganya Rosululloh dalam pemeliharaan Allah karena Allah berkehendak memuliakan beliau. Ketika Rosululloh berusia 6 tahun beliau diajak ibunya pergi berziarah kemakam ayahnya dan berziarah kesaudara ibunya bani Najjar Qobilah Khozroj Madinah. Dalam perjalanan tersebut ikut pula Ummu Aiman Barokah Al-habasyah. Beliau tinggal di Madinah selama sebulan. Dalam perjalanan pulang ke Mekkah, Ibu beliau jatuh sakit disebuah desa yang bernama Abwa letaknya antara Mekkah dan Madinah. Disebut Abwa karena letaknya di dataran rendah sehingga jika hujan turun sering banjir. Sakitnya ibu beliau tersebut akhirnya menjadi sebab ibu beliau wafat. Rosululloh amat sangat sedih karena belum lama berkumpul dengan ibunya yakni hanya 2 tahun dimana beliau baru merasakan kehangatan kasih sayang ibunya. Rosululloh dan Ummu Aiman sendiri yang menguburnya di desa Abwa tersebut. Beliau tinggal di Abwa selama 5 hari karena menunggu keluarganya dari Mekkah yang akan menjemputnya. Setelah menunggu datanglah kakeknya mengambil beliau untuk dibawa pulang dan mulai hari itu Rosululloh diasuh kakeknya. Menurut riwayat lain Rosululloh pulang ke Mekkah hanya bersama Ummu Aiman tidak dijemput.
Saat peristiwa Fathul Mekkah Rosululloh lewat di Abwa dan beliau mengajak para shohabatnya ke pekuburan dan menuju satu kuburan. Beliau dan para shohabatnya duduk sambil bermunajat dan berbicara lama sekali dengan yang ada didalam kuburan tersebut lalu terdengar suara tangisan beliau sehingga para shohabat ikut menangis dengan perasaan cemas akan keadaan Rosululoh. Akhirnya Umar bin Khothob memberanikan diri bertanya penyebab beliau menangis. Rosululloh menjawab : Sesungguhnya kuburan yang kalian lihat aku munajat tadi itulah kuburan ibuku Aminah binti Wahb. Dan sungguh aku minta ijin Tuhanku untul menziarohinya lalu Allah memberi izin. Aku merasakan kembali kasih sayangnya maka akupun menangis.
Didalam kitab Imam Suyuthi diceritakan sebelum wafat Sayyidah Aminah mengucap syiir : Semoga Allah memberkahimu wahai anakku. Wahai putra dari ayah yang telah pergi. Sang ayah yang dahulu lepas selamat dari sembelihan dengan pertolongan Allah Yang Maha Bijaksana. Ditebus dengan undian yang berulang kali. Dengan seratus unta peliharaan . Syiir Imam Bushiri yang artinya : Berbahagialah bagi Aminah mempunyai putra yang dengannya dia mencapai keutamaan, dan kaum hawa juga turut menjadi mulia.

Tidak ada komentar: