Menurut kebanyakan ahli siroh, sayyid
Abdulloh hidup dengan istrinya kurang lebih 18 hari, kenudian beliau berniaga
ke syam dengan rombongan kafilah sampai akhirnya beliau wafat dua bulan
kemudian. Betapa sedihnya semua kaum Quraisy terlebih lagi istrinya yang sedang
mengandung. Beliau sangat tegar karena Allah menurunkan ketenangan pada beliau
dan beliau berkata pada orang sekitarnya : rasanya saya sudah mengerti rahasia
yang terjadi pada Abdullah ditebus dari sembelihan itu untuk suatu tugas besar
dan mulia takdir kewafatannya diperlambat agar ia menitipkan janin ini kepadaku
dan sekarang ini saya sudah merasakan dia bergerak didalam rahimku, ya, untuk
janin inilah saya harus terus hidup (semangat hidup).
Maka tibalah pada waktu sahur malam senin
tanggal 12 Robi'ul Awwal tahun gajah (pendapat yang masyhur jarak kelahiran
Rosululloh dengan hancurnya tentara gajah berjarak sekitar 50 hari) 571 Masehi
lahirlah Rosululloh, saat detik-detik melahirkan Aminah melihat cahaya yanh
terang menyinari seluruh penjuru rumah. Beliau melihat serombongan wanita
mengelilinginya dengan pandangan penuh kasih sayang dan menenangkan Aminah yang
akan melahirkan. Mereka mengenalkan dirinya yang ternyata mereka itu adalah
Maryam binti Imron (Ibu Nabi Isa), Asiyah binti Muzahim (Istri Fir'aun yang
mukminah) dan Hajar (Ibu Nabi Ismail) disaat itu Aminah ditemani budaknya Ummu
Aiman dan bidan kelahiran Syafa' (Ibu Abdurrohman bin 'Auf) Mereka semua
terpana akan kehadiran wanita mulia tersebut.
Usai melahirkan Aminah mengutus Ummu Aiman
untuk memberi tahu Abdul Mutholib. Abdul Mutholib datang dengan rasa sangat
gembira sekali dan penuh kasih sayang menatap wajah cucunya sementara
telinganya mendengarkan cerita Aminah dengan seksama. Setelah usai mendengarkan
cerita Aminah beliau dengan hati-hati menggendong cucunya tersebut keluar
menuju Ka'bah untuk berdoa sebagai tanda rasa syukur akan kelahiran cucunya
dari putranya yang paling disayangi.
Seluruh anak Abdul mutholib berdoa dengan rasa haru dan syukur
disekeliling Ka'bah. Lalu Abdul Mutholib mengembalikannya ke ibunya dan beliau
pergi untuk menyembelih hewan ternaknya untuk perayaan kelahiran cucunya dengan
mengundang seluruh penduduk Mekkah bahkan hewan-hewan juga dikasi makanan.
Mekkah dan penghuninya sangat bergembira dihari itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar